Jumat, 09 Mei 2014

Ilalang ( Sang Pencinta )



Ku tatap indah pemandangan di depan mataku ini....  Iya ini adalah tempat yang selalu kudatangi dikala ku merindukannya.  Melamunkan masa-masa indah dulu bersamanya disini.
Teringat saat pertama ku memperhatikannya, seorang laki-laki yang selalu mendatangi tempat ini, ku fikir apa laki-laki ini sedikit gila, memandangi ilalang lalu kadang iya tersenyum sendiri melihat ilalang-ilalang itu bergerak, menari terbawa angin yang meniupnya.
Hingga suatu saat ku beranikan untuk bertanya padanya.
“ punten a, nuju naon? Abdi tingal unggal dinten aa kadieu merhatikeun ilalang trus ujug-ujug  mesem nyalira pas ningal eta ilalang katariup angin ” tanyaku padanya yang mungkin sedikit membuatnya bingung
“ maaf teh, tth ngmng apa? Saya bukan orang sini jadi ga ngerti bahasa tth “ jawabnya
“ ouh maaf a kirain teh orang sini. Iya maksudnya aa lagi apa disini, setiap hari saya liat aa ke tmpt ini merhatiin ilalang-ilalang ini kemudian tersenyum sendiri pas liat ilalang ini tertiup angin “ tanyaku lagi sambil menjelaskan pertanyaanku yang tak ia mengerti tadi.
Dia pun lalu menjawab “ oh gtu ya, heheh ternyata ada yang merhatiin jg ya klau saya srg ke tempat ini. Iya saya suka tempat ini melihat ilalang yang menari terbawa angin, mungkin saya fikir mereka tak pernah bersedih, stiap hari menari bahagia, melekuk dengan indah hehe “
“ oh iya ko tth bs tau kalau sya sering kesini? Curiga tth mata-matain saya ya heheh “ tanyanya sambil sedikit terkekeh
“ eh engg,, enggak ko. Rumah saya kan daerah sini tuh tepat bgt sebrang taman ilalang ini, kalau saya buka jendela kamar otomatis langsung keliatan “ jawabku sedikit malu
“ oh hehe kirain tth jd secret admire saya haha “ candanya terhadapku
Kamipun berkenalan dan mengobrol banyak hari itu. Akhirnya aku pun tau dia seorang photographer di sebuah studio photo dan kebetulan dia sedang dipindah tugaskan untuk beberapa waktu di Bandung.

.....................................


Setelah hari itu, dia sering mengantarku pergi ke tempat kerja karena kebetulan tempat kerjanya pun searah dengan tempat kerjaku.
Sore harinya dia selalu menyempatkan datang ke taman ilalang ini. Terkadang dia membawa kameranya untuk sekedar memotret pemandangan ilalang di sore hari.
“ Na, mau ga jadi model ku sehari aja ? “ pintanya padaku
“ apa? Enggak ah, aku ga bs bergaya kaya model-model lain yang selalu kamu foto. Aku jg ga cantik kaya mereka “ jawabku sedikit bingung kenapa dia mau menjadikan ku sbgai modelnya hari itu.
“ ayo lah please Na, ya please kali ini “ pintanya merajuk seperti anak kecil yang mnt di belikan permen oleh ibunya.
Yah akupun terpaksa mengiyakan keinginanya daripada nanti dia frustasi lalu bunuh diri gara-gara aku tidak mau jd modelnya.
Pemotretan ilalang pun selesai. Ternyata sulit sekali jadi model, banyak diatur tentang bagaimana cara berpose.
“ Na , yuk aku traktir beli mochi es krim yang diujung jalan itu “ ajak Eza padaku
“ serius Za? Aku mau, asli nih gratis Za? “ tanyaku padanya
“ iya lah, anggap aja ini bayaran untuk jadi modelku sehari heheh “ dia terkekeh

........................................


Hari berganti menjadi minggu, lalu menjadi Bulan . hubunganku dan Eza semakin baik, perasaanku mulai tumbuh terhadapnya. Bagaimana tidak, Eza seorang laki-laki yang bersahaja.
Tiapku bertemu dengannya  Jantungku berdetak sangat kencang, mukaku tiba-tiba memerah seketika saat dia menatapku. Tapi apa dia merasakan yang sama sepertiku, jika iya mungkin dia sudah mengutarakan perasaannya terhadapku.
Ilalang-ilalang ini yang menjadi saksi perasaanku terhadapnya.
Dan hari ini kami seperti biasa berlarian mengejar satu sama lainnya. Terkadang membawa layang-layang lalu kami terbangkan bersama. Tertawa bersama dan mengahabiskan sore kami bersama.
Hingga ke esokan harinya Dia memintaku untuk datang menemuinya lebih awal. Perasaanku tiba-tiba tak tenang. Dadaku berdetak lebih kencang. Aku berandai-andai hari ini mungkin dia akan menyatakan perasaannya terhadapaku.
Ku pakai baju terbaikku, berdandan secantik mungkin untuk menyambut hari bahagiaku bersamanya.
Aku langkahkan kakiku menuju tempat yang selalu ku datangi bersamanya selama 6 bulan ini . dan ku lihat dia sudah duduk disana, menungguku. Aku tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya, diapun membalas senyumnya ku .
Oh Eza tampan sekali kamu hari ini . gumamku dalam hati
“ Hai, Na kamu cantik banget hari ini. Mau kemana? “ tanyanya padaku
“ Masa sih Za? Perasaan kamu aja kali, atau kamu baru sadar aku tuh cantik heheh “ jawabku sambil terkekeh
“ Na, aku mau pamit. Aku kembali tugas di Yogyakarta. Mungkin ini hari terakhir kita ketemu, tapi kalau aku ada waktu aku pasti ke Bandung lagi ko. Tentunya buat ketemu kamu. “
Pernyataannya sontak membuatku kaget, aku remuk seketika. Harapanku musnah. Dandananku pun tak ada artinya. Aku hanya memandang kosong pemandangan di depanku.
“ Na, Na hey ko kamu ngelamun “ suara itu sontak membuatku berhenti dari rasa tak percaya, ingin rasanya menitikan airmata yang sudah tak kuasa ku bendung saat itu
“ eh gak apa-apa ko Za. Ko bisa kamu pindah lagi ke Yogya? “ tanyaku padanya
“ iya Na, aku di tarik lagi kesana. Ada sebagian pegawai yang Resign jadi aku terpaksa kesana lagi. Padahal aku udah betah loh disini. Ya tapi gimana lagi namanya kerjaan ga mungkin aku tinggalin, iya kan Na ? “ dia membalikan pertanyaan padaku
“ hehe iya juga sih ya, susah klau soal kerjaan ya. “ aku coba menegarkan hatiku dan lalu bertanya kembali padanya “ By the way kapan kamu berangkat? Malam ini atau bsok pagi ? “
“ Malam ini Na, aku udah beli tiket untuk pulang ke Yogyakarta malam ini . makanya aku nyuruh kamu datang lebih awal . Oh iya aku punya sesuatu buat kamu Na, ya buat kenang-kenangan kalau suatu saat nanti kamu kangen sama aku, kamu tinggal liat ini . “ dia mencoba merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu dan memberikannya padaku. Sebuah bingkisan kotak kecil.
“ ayo buka Na, kali aja kamu suka .”
Dan aku membuka kotak kecil tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah kotak musik yang begitu cantik. Ku buka kotak musik tersebut, lalu ada suara yang mengalun indah yang keluar dari sana. Airmataku kini sudah sontak tak tertahan. Mereka keluar setetes demi setetes membasahi pipiku.
Sontak Eza kaget lalu bertanya padaku “ Loh Na kenapa kamu nangis ? “
“ Eh enggak ko Za, aku suka banget sama kotak musik ini. Makanya aku terharu banget .” jawabku sambil terisak.
Beberapa saat kemudian Eza pamit padaku. Aku memperhatikan langkahnya yang semakin jauh dariku. Bayangannya pun semakin menghilang tapi aku masih tertegun dan tak percaya ini akan terjadi padaku.

..........................................


Satu hari, satu minggu, satu bulan bahkan kini sudah menginjak satu tahun. Aku masih disini selalu menatap ke sebrang kamarku berharap sosok laki-laki itu kembali duduk disana dan tersenyum memandang ilalang-ilalang itu.
Aku menarik nafasku dalam-dalam. Apa penantianku akan berbuah manis seperti dalam sinetron-sinetron ftv yang selalu ditayangkan di tv.
Rasanya sulit untuk kembali menata hatiku setelah ku jatuhkan semua perasaanku terhadap laki-laki itu.
Aku masih menunggunya. Menunggu sang pencinta ilalang itu datang kembali. 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar